Lynx dan Leena yang melihat kapal itu hendak meluncur, tak tinggal diam. Dengan satu gerakan tangan, Lynx membuat formasi teleportasi. Kilatan cahaya membentuk pusaran, dan sepasang tubuh mereka lenyap ke dalamnya. Dalam sekejap, mereka telah berdiri di dalam kabin kapal antariksa.

Tiga orang di dalamnya sontak terkejut. Sebuah cahaya kecil muncul di tengah ruang, lalu membesar dan mekar. Dari cahaya itu, muncul dua sosok, seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik, yang barusan mereka lihat dari luar.

"Siapa kalian?!" seru salah satu perempuan, panik, seraya mengangkat senjata ke arah mereka.

Lynx mengangkat satu tangan, gerakannya tenang namun tegas. "Kami bukan musuh. Kami hanya ingin bertanya."

"Jangan dengarkan! Mereka pasti bagian dari makhluk itu! Tembak sekarang!" bentak seorang perempuan lainnya dengan mata penuh curiga.

Namun sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, sosok Leena sudah menghilang dari pandangan sejenak. Dalam sekejap, senjata itu telah berpindah tangan. Leena berdiri anggun dengan mata tajam, menguasai situasi tanpa sepatah kata.

Kedua perempuan itu segera mendekat satu sama lain dengan perasaan terkejut dan takut, salah satunya merangkul gadis kecil di sampingnya, melindunginya seolah memeluk kehidupan terakhir yang tersisa.

"Sara! Mona! Kalian baik-baik saja?!" suara seorang wanita menggema dari ruang kontrol. Ia tengah berusaha mempertahankan kendali atas kapal yang mengalami kerusakan akibat serangan makhluk-makhluk tersebut.

“Katakan! Apa sebenarnya tujuan kalian? Apa yang ingin kalian tanyakan?” seru wanita berambut merah, matanya tajam penuh kecurigaan.

“Kami hanya ingin tahu tentang makhluk-makhluk yang tinggal di planet tadi,” jawab Leena dengan tenang. “Apa nama mereka?”

Tatapan wanita itu menelusuri wajah dan pakaian Leena. Sebuah ide perlahan tumbuh dalam benaknya, namun ia menyimpannya rapat-rapat di balik sorot mata yang dingin.

“Kalian sungguh tidak tahu?” ucapnya dengan nada datar. “Planet itu bernama Orjeon. Planet terkutuk yang telah menelan banyak nyawa. Siapa pun yang mendarat di sana, jarang ada yang kembali.”

Perempuan di sampingnya menambahkan, “Makhluk-makhluk itu mengirimkan sinyal palsu, seolah ada kehidupan yang bisa diselamatkan. Begitu seseorang mendekat, mereka menyerang lewat ilusi. Tak satu pun menyadari apa yang terjadi hingga segalanya terlambat.”

“Bagaimana bisa ada planet sejahat itu? Apa seluruh daratannya dihuni oleh makhluk-makhluk itu?” tanya Leena dengan alis berkerut.

“Seluruh wilayah planet telah dikuasai,” jawab si rambut merah sambil mengepalkan tangan marah. Karena ulah makhluk tersebut, mereka kehilangan rekan-rekan dan juga orang yang dapat membuat mereka memiliki banyak uang.

“Dulu pernah dicoba dihancurkan, tapi setiap kali tim datang, planet itu menghilang seperti bayangan kabut."

Tiba-tiba, kapal luar angkasa itu berhenti. Tidak ada suara. Tidak ada getaran. Hening mencengkeram seluruh ruang.

Sesosok wanita berambut pendek keluar dari ruang kontrol. Langkahnya mantap, namun matanya penuh tanya.

“Eliza? Kenapa kau ke sini? Mengapa kapal berhenti?” tanya si rambut merah, matanya menyipit.

Eliza menatap dua orang asing yang berdiri di tengah kabin. Alisnya sedikit terangkat.

“Mereka... bukankah tadi masih di luar?” pikirnya. “Bagaimana bisa mereka berada di dalam tanpa alarm?”

Namun, melihat kedua rekannya masih utuh, meski wajah mereka menyimpan kegelisahan yang tersamar, Eliza tetap siaga. Tangannya nyaris menyentuh gagang senjata di pinggangnya, bersiap jika keadaan berubah tak terkendali.

“Kalian baik-baik saja?” tanyanya pada dua perempuan dan anak kecil yang berdiri rapat di sisi kabin.

Keduanya mengangguk perlahan, namun tatapan mereka tetap lekat pada Lynx dan Leena, seolah masih berusaha menyingkap tabir yang menyelimuti kedatangan dua sosok asing itu.

“Mesin sayap kiri mengalami kerusakan. Kita harus memperbaikinya dari luar sebelum bisa melakukan lompatan melalui wormhole,” ujar Eliza pelan, lirih namun tegas, sembari melirik sekilas ke arah wanita di sebelahnya.

“Mona, kau sanggup?” tanya wanita berambut merah, nadanya ragu namun penuh harap.

Wanita yang dipanggil Mona mengangguk pelan. Tatapannya masih terarah pada Lynx dan Leena, menyimpan sisa kekhawatiran yang belum surut. Meski demikian, ia tahu hanya dirinya yang mampu memperbaiki sistem pesawat itu.

Leena melangkah maju, lalu mengulurkan senjata yang sebelumnya direbutnya. Gerakannya tenang dan penuh penghormatan. “Maaf telah mengambil senjatamu. Namaku Leena, dan ini Lynx,” ujarnya sambil menoleh sebentar ke arah Lynx.

Wanita berambut merah menerima senjatanya kembali, lalu menyelipkannya tanpa berkata banyak. “Aku Sara. Ini Eliza, dan wanita yang akan memperbaiki pesawat tadi bernama Mona. Anak kecil ini adik kami, Isha.”

Lynx tersenyum ramah pada Isha yang bersembunyi di balik kaki Sara. “Bagaimana kalian bisa berada di tempat itu, dan mengapa hanya berempat?” tanyanya dengan suara lembut.

“Awalnya kami berjumlah sembilan belas orang,” jawab Eliza, sorot matanya sayu. “Tapi dalam perjalanan, operator pesawat tiba-tiba bertingkah aneh dan membawa kami ke sana. Kami semua mengira telah tiba di tujuan, tapi ternyata... semuanya hanya ilusi buatan makhluk-makhluk itu.”

“Lalu bagaimana kalian bisa selamat?” tanya Leena, suaranya nyaris berbisik.

"Kami tidak tahu. Tiba-tiba saja kesadaran kami kembali, dan saat itu kami melihat mereka semua berjalan menuju satu arah," jawab Sara lirih.

Lynx dan Leena saling berpandangan mendengar hal itu, dalam benak mereka berpikir, "Sepertinya mereka teralihkan karena berusaha menyerang kami."

Eliza menambahkan, "Saat tersadar, kami mendapati seluruh rekan kami telah tewas. Kami mencoba melarikan diri, namun pesawat langsung ditahan oleh kekuatan mereka. Lalu, seperti yang kalian lihat sendiri… sesuatu mengusir makhluk-makhluk itu dari badan pesawat, dan kalian muncul."

"Isha berada di ruang isolasi khusus, jadi dia tidak terpengaruh dan tetap berada di pesawat," lanjut Eliza sambil melirik ke arah gadis kecil itu, menyadari tatapan Lynx yang mengandung tanya.

"Aku akan memantau sistem utama untuk melihat hasil kerja Mona. Eliza, kau awasi kondisi di luar. Kita tidak tahu apa yang tersembunyi di tempat ini," ucap Sara sebelum melangkah menuju ruang kontrol, diikuti Isha yang memegang erat lengan bajunya.

Dari dalam ruang kontrol, Eliza memantau pergerakan Lynx dan Leena melalui layar tampilan.

"Lynx, apa rencanamu sekarang?" tanya Leena pelan.

"Kita akan kembali menemui Kael dan yang lainnya untuk mencari petunjuk lebih lanjut. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus kuselesaikan lebih dulu." Suaranya tenang, namun sorot matanya mengeras.

Dengan satu gerakan halus, Lynx berubah mengenakan baju tempurnya. Ia tak ingin memperlihatkan kekuatan sejatinya di hadapan mereka. Lagipula, Sara dan yang lainnya tampaknya tidak memiliki kemampuan untuk merasakan aliran Qi atau riak kultivasi. Lynx pun memilih untuk tidak mengaktifkan formasi ilusi untuk manipulasi ranah kutivasi, khawatir gelombangnya akan mengganggu struktur pesawat.

Leena mengangguk singkat lalu melangkah menuju ruang kontrol untuk mencari informasi, sebelum sosok Lynx menghilang dalam seberkas cahaya teleportasi.

Eliza yang melihat Leena mendekat, segera memindahkan layar pengawasan agar tidak terlihat.

Lynx muncul, melayang tinggi di atas atmosfer planet Orjeon. Matanya menatap datar daratan luas yang terbentang di bawahnya. Kini ia telah memahami kekuatan makhluk-makhluk itu. Ia pun bersiap.

Dengan kesadarannya yang tajam, Lynx mengedarkan kepekaan spiritualnya ke seluruh penjuru planet, menyapu setiap celah dengan jangkauan batinnya. Yang ditemukannya hanyalah hamparan tulang belulang, tumpukan reruntuhan logam, dan bangkai pesawat dari berbagai generasi. Tak ada denyut kehidupan tersisa.

"Planet semacam ini hanya membawa malapetaka. Sudah waktunya dihapus dari langit."

Lynx menyesuaikan posisi tubuhnya, kaki kirinya menekuk ke depan, kaki kanan lurus ke belakang. Kedua telapak tangannya saling berhadapan di samping pinggang sebelah kanan, membentuk pusaran energi yang menggumpal di antara sela-sela jarinya. Dari titik hening itu, bola cahaya putih perlahan terbentuk, kecil seperti bola golf dan perlahan membesar dengan pancaran menyilaukan, menyerap energi dari langit dan tanah di sekeliling.

Namun itu belum cukup. Lynx menyalurkan energi saktinya yang didapatkan setelah tubuhnya tertanam di batu meteor, membentuk lapisan kekuatan tak kasat mata yang menyatu dengan bola cahaya.

"Sudah lama aku tidak menggunakan teknik ini sejak mendapatkan kekuatan dari batu meteor," bisiknya lirih.

Bola energi membesar, berdenyut lembut namun penuh daya tekan. Ketika dirasakan sudah cukup, Lynx mendorong tangannya ke depan. Cahaya itu melesat, menembus udara bagaikan kilatan naga surgawi, menghantam permukaan planet dengan kekuatan tak tertahankan.

Dentuman besar mengguncang daratan Orjeon. Gelombang kejut merambat jauh, menggetarkan atmosfer yang suram. Retakan membelah permukaan tanah, langit pun bergemuruh.

Begitu ledakan mereda, sosok Lynx telah menghilang, kembali dari langit yang berguncang.

